31 May 2017

Throwback: Lov-In' Tunes

The Archipelago Singers has just released one of the recorded videos from the Valentine concert!

Here is "My True Love Hath My Heart", by John Rutter from "Birthday Madrigals"




We're also going to release a CD filled with the songs from our valentine concert. If you missed our last concert, no need to worry- we're going to do another one soon!

Bringing you contemporary works, see you on October 8, 2017 for our next concert, "Contemporealis"

09 January 2017

The Archipelago Singers: Lov-In' Tunes


THE ARCHIPELAGO SINGERS
Ega O. Azarya, Conductor
present

LOV-IN' TUNES
A Valentine's Concert


Sunday, February 12th, 2017, 4pm and 7.30pm

Usmar Ismail Hall
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. C-22, Jakarta 12940


Ticket: Platinum IDR250k, Titanium IDR150k, Aurum IDR100k

Information and reservation: Santi - 081293987161

The Archipelago Singers is the First Prize Winner of: The 37th International May Choir Competition Prof. Georgi Dimitrov, Varna, Bulgaria (2016); the 2nd Andrea O. Veneracion International Choral Festival, Manila, Philippines (2015), the 32nd Cantonigros International Music Festival, Vic, Spain (2014); the 60th International Choir Competition for Habaneras and Polyphony, Torrevieja, Spain (2014); and the 9th Miltenberg International Choir Competition, Miltenberg, Germany (2012).

---


Konser ini akan menjadi konser perdana gue sebagai anggota paduan suara The Archipelago Singers. Lov-In' Tunes mengangkat tema hari kasih sayang/valentine's day. Lagu-lagu yang akan kami bawakan adalah lagu-lagu pop dan musikal yang bertemakan cinta... Pokoknya super sweet like candy. Don't forget to book your tickets and feel the love -  bring your crushes and steal their heart by holding their hands while listening to beautiful love songs all through the night!

07 July 2016

Eid Mubarak!

Halo! Sudah lama gak nulis. Sebelumnya, ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 H, Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin. Sekiranya banyak kekhilafan yang telah gue lakukan. Sesungguhnya itu hanyalah satu dari banyak ketidaksempurnaan diri gue sendiri. Besar harapan untuk dibukakan pintu maaf yang amat sangat lebar sehingga gue bisa muat melewati pintu itu karena gue gendut.

Sekedar ingin menulis sebagai sebuah pengingat di masa depan... Dahulu waktu gue kecil, waktu lebaran selalu dihabiskan di rumah Eyang Wid - kakak tertua Eyang gue, Eyang Niniek. Di rumahnya, gue akan bertemu empat anak Eyang Wid bersama cucu-cucunya, aka sepupu gue. Rame sekali. Lalu ada juga tante/om lainnya dari Eyang Ndari, kakaknya Eyang Niniek juga. Sepupu-sepupu gue itu sebaya sama gue. Usianya gak beda jauh banget lah. Dari kecil, kalo berkumpul, kita selalu dijadiin satu, fotonya berjejer semacam pameran mainan, main ini-itu bareng, dimandiin bareng, kalem-kalem bareng, soalnya kalo gak kalem ntar diomelin sama Eyangnya masing-masing, dan lain-lain. Setelah selesai silaturahmi di rumah Eyang Wid, gue bareng sama papa mama adek & Eyang akan berkunjung ke rumah ibunya Mama, Eyang Luci - yang seringkali dipanggil Eyang Djoko, karena beliau adalah istri mendiang Eyang Kakung Djokopitono. Di rumahnya - yang sekarang gue tinggali, gue akan bertemu banyak saudara, karena Eyang Luci pun kakak-beradik 7 bersaudara. Hampir semua akan kumpul di situ, dan sepupu gue hampir gak terhitung jumlahnya, karena bingung ngitungnya gimana. Dengan keluarga Mama, kebanyakan adanya mas dan mbak yang lebih senior dibanding yang seusia gue. Adanya gue yang mengetuai geng 90an, dan di bawahnya ada adek-adek manis yang usianya terpaut 5-7 tahun dari gue.

Sejak orang tua gue berpisah di tahun 2005, tradisi lebaran berubah sedikit, harus dimodifikasi karena keadaan. Karena gue tinggal bersama Eyang Luci, jadilah gue ikutan persiapan open house Idul Fitri. Masak opor, sambal goreng, empal gentong, lalu ada Ismail si tukang sate yang ngebakarin sate bisa sampe 400 tusuk, free flow sunkist squash, belum lagi tiba-tiba ada lasagna baru keluar dari oven. Ada aja. Sampai habis dzuhur, baru akan dijemput sama Papa buat berkunjung ke rumah Eyang Wid dan berkumpul di sana. Waktu pertama kali gue dan adek gue melakukan tradisi baru ini, agak sedih karena kita jadi gak ketemu sama sepupu-sepupu dan om tante yang lainnya karena kita datangnya terlalu siang, jadi mereka udah cabut. Tradisi ini masih berlanjut sampai sekarang. Iya, gue sering banget kesiangan - bahkan pernah kesorean. Gue nyaris gak pernah menghabiskan waktu sama mereka lagi. Rasanya selalu ingin say hello, ngobrol gak penting, ketawa-ketawa, et cetera - jadi pinginnya ya datang berkumpul bersama. Tahun ini, eyangnya tinggal satu, yang paling sepuh - Eyang Wid. Eyang yang lainnya sudah gak ada, sudah dipanggil sama Yang Maha Kuasa.

Atas ki-ka: Syifa - Dessy - Raihan - Baby - Eyang Iswarin Widodo - Mbak Manda - Sarita
Bawah: Rio - Gue! - Mbak Ines
Kurang Mas Riyan, Reno, Rafi, Anissa, Tasya & Ray

Gue ngerasa walaupun jarang ngumpul dan walaupun ada jarak sejauh itu di antara gue dan sepupu-sepupu gue, kita masih merasa satu karena ikatan keluarga yang erat, yang dibangun sejak kita masih kecil-kecil, dari belum bisa jalan, sampai udah mid-twenties dengan segala drama kehidupan yang kita lewati masing-masing. And I really treasure this a lot. Gak semua orang memiliki ikatan itu sekarang. Banyak orang yang nyaris gak kenal sama saudaranya sendiri karena mereka jarang ketemu, jarang ngobrol, dan lain sebagainya. Ingin rasanya kalo nanti orang tua kami semua udah tua-tua, ya kita-kita ini generasi selanjutnya yang meneruskan tradisi ini. I really think that we have to start somewhere to keep the bond that we've had since we were young. I want my kids - or at least my nieces and nephews to have the same thing that I have with my cousins: the bond. I want them to grow up like we did. Mbrebes mili.

Alhamdulillah. Gue bersyukur bisa menikmati Idul Fitri kali ini bersama dengan anggota keluarga yang gue kangeni - walaupun tadi sempet ketemu tante dan om yang cuma papasan pas mereka keluar rumah. Rasanya udah bertahun-tahun lama gak ketemu mereka karena satu dan lain hal. Senang juga ketemu lagi. Segitu aja tulisan gue sekarang. Mudah-mudahan next time bawa kabar baik dari mbak/mas yang lain. Siapatau masih dikasih waktu untuk nongkrong bareng, kenapa enggak.

See you around, and Eid Mubarak!

27 November 2015

Fase 1:

Gue gak pernah menyangka kalo skripsi gue akan terbengkalai. Gue memulai skripsi gue pada Maret 2014. Skripsi itu gak pernah berhasil melewati Bab 2 karena pada saat itu, gue lebih memilih untuk memperbaiki nilai kuliah gue dan mengorbankan jadwal bimbingan yang selalu bareng dengan kelas yang gue ambil. Gak ngerti kenapa, sih. Pokoknya, gak selesai. Pressure bertambah pada saat gue memulai skripsi gue yang kedua. Akibat miskomunikasi antara gue dan koordinator jurusan, gue sangat, sangatlah telat dapet dosen pembimbing: akhir Desember 2014. Pada saat itu, koordinator jurusan gue hanya tertawa kecil, bilang kalo gue ga akan mungkin selesai di bulan Maret 2015. Patah semangat, ya. Tapi, gue tetep kerjakan skripsi sesuai kapasitas gue.

Omongan itu terbukti benar. Lagi, untuk kedua kalinya, gue gagal menyelesaikan skripsi sebelum deadline pengumpulan. Kesempatan kedua itu lari begitu aja dari depan mata gue. Dan gue rela aja ngelepasnya. Habis, mau gimana? Semua orang bingung, kok gue gak kelar-kelar. Kok gue gak ketar-ketir ngejar skripsi selesai. Bulan Juni 2015, gue masih belom move on dari Bab 2. Gue dapet dosen luar biasa sebagai dosen pembimbing, dan beliau sangat sulit untuk ditemui. Namun beliau merupakan pribadi yang luar biasa baik dan sabar. Gue bimbingan dengan beliau selalu di luar kampus dan bisa dihitung pake jari, berapa kalinya. Karena gue gak punya hutang mata kuliah lagi, gue pun menghilang dari peredaran kampus. Semua orang mikir gue udah pergi dari Jakarta. Rasanya emang begitu, pengennya ditelan bumi aja.

Sampai suatu hari, gue dapet berita kalo guru Bahasa Indonesia gue di SMU meninggal, tepat satu hari setelah istrinya meninggal. Gue pergi melayat bareng temen gue, dan di sana kita ketemu banyak guru SMU. Of course, semua nanya, apakah gue udah kelar kuliah atau belum. Bu Joel, salah satu guru BK di SMU gue, kaget denger gue belum selesai. Waktu SMU, gue nyadar kalo gue itu rajin. Semua PR dikerjain tepat waktu, belajarnya bener, jarang bolos (walaupun suka bolos cabut gak karuan juga sih), aktif berkegiatan, dll. Semuanya berubah di tahun terakhir gue kuliah. Rasanya gak karuan: berhenti kuliah segan, ngelanjutin gak mau. Bu Joel tanya gimana rencana gue ke depan. Pada saat itu, gue bilang, nampaknya gue akan gagal lagi untuk sidang ketiga kalinya.

Berkat sepercik nasehat dari Bu Joel untuk segera menyelesaikan kuliah, pada akhir bulan Juli, gue memberanikan diri ketemu dosen pembimbing gue. Sebut saja namanya dokter Henry. Sempet-sempetnya I did some research, dan ternyata dr. Henry merupakan teman kecilnya salah satu tante terdekat gue. Tapi gue diem aja sih, gak berani ngomong apa-apa soal itu. Gue hanya nyeletuk saat bimbingan, apakah gue boleh sidang di bulan Agustus atau enggak, karena terakhir sidang adalah tanggal 14 Agustus. To my surprise, dia ngebolehin. Pada saat itu, Bab 3-4-5 gue masih acak-acakan. Rasanya mau mati, ngetik-ngedit-ngemail-ngeprint dan gitu aja terus sampe Indonesia jadi negara adidaya setiap hari.

Pada akhirnya gue ngumpulin soft cover skripsi gue sebagai syarat daftar sidang. Gue dengan pedenya request sidang di tanggal 10 Agustus 2015. Kepala jurusan gue menolak mentah-mentah, karena beliau bilang gue ngumpulinnya belakangan, jadi gue harus sidang belakangan juga. Tapi beliau ngasih waktu yang paling pagi. Mungkin dia tau gue udah kebelet lulus.

Empat belas Agustus 2015, jam sembilan pagi, gue sidang. Gak ada yang nemenin. Temen gue kesiangan. Gue harus keliling gedung pake baju sidang dan sepatu lari warna pink. Sampe akhirnya gue ganti sepatu high heels karena dosen pembimbing gue akhirnya datang. Gue duduk di dekatnya, dan beliau nanya-nanya soal kesiapan gue sidang pagi itu. Lalu dr Henry nyeletuk, katanya beliau kenal sama tante gue. Gue cuma ketawa aja saat dia tanya kenapa gue gak pernah cerita sama dia. Setelah percakapan yang ga nyampe lima menit itu, dr Henry masuk ruangan bareng 2 penguji lainnya. Gak lama, gue disuruh masuk.

Rasanya deg-degan. Gue disuruh duduk di tempat dosen biasa duduk di dalam kelas. Panitera ngasih tau gimana tata cara sidang dan apa aja yang harus gue lakuin. Untuk sidang, gue dandan biar ga keliatan kucel dan gue nyatok rambut biar agak badai dikit. Ujung-ujungnya gue gak betah, lalu gue jepit rambut gue dan gue mulai presentasi. Sekira satu jam kemudian, setelah presentasi singkat dan sesi tanya jawab yang gue pikir ga bakalan kelar, gue selesai dan disuruh keluar ruangan. Gak sampe lima menit, gue dipanggil lagi.

Gue dinyatakan lulus.

Dapet nilai A.

Gak pake ba-bi-bu,

Gue sujud syukur.

Nangis.

Ya, gue lulus. Dengan revisi, sih. Ada dua kalimat yang harus ditambahin di Bab I dan Bab V. Itu aja. Gak neko-neko. Gue salamin penguji gue satu-satu, dan bilang terima kasih atas hari yang menyenangkan. Gue keluar ruangan, dan temen gue ngasih selamat. Alhamdulillah, kelar juga. Gercep, gue langsung telepon bapak gue dan diapun memberi selamat. Telepon Mama, Mama juga memberikan ucapan yang sama. Lalu gue telepon seorang yang signifikan... Dan responnya juga sama.

Sekarang gue adalah seorang sarjana hukum. Secara resmi gue telah ditempel gelar tersebut pada 10 September 2015, di hari yudisium. Tanggal 14 Oktober 2015, gue wisuda. Kuncir toga gue udah pindah dari kiri ke kanan, dan semenjak hari itu, gue resmi pengangguran.

Ini buat mama, papa, adek, serta semua orang yang selalu menginspirasi.

Fase 1: Selesai.







---

Masih membekas di ingatan gue, betapa hancurnya hati gue di akhir bulan Juli. Seorang yang signifikan tak pernah lagi menyemangati, tak pernah lagi mempedulikan kemana kaki gue melangkah. Sungguh, gue pikir itu adalah akhir dari dunia gue: Pendidikan Strata-1 gue yang tak kunjung selesai, ketidakfokusan hidup gue sendiri, ditambah keberadaannya yang selalu dipertanyakan setiap hari.

Fin.

11 September 2015

Wistfully Written

Here I am, awake after midnight, and the thought of you slipped through my being.
It's still quite blurry, the oldest memory of you and me.

Here I am, awake after midnight, reminiscing the days when sleep was for the weak.
We would talk all night long, we wouldn't even think about the lack of sleep.

Here I am, awake after midnight, reminiscing the days when we met in the library.
We would put books which we didn't read, we wouldn't even think about people noticing.

Here I am, awake after midnight, reminiscing the days when the car was the place to make memories.
We would lay by each other's arms, we wouldn't even think about the traffic.

Here I am, awake after midnight, reminiscing the days when we went to the cottage in front of the sea.
The birth of eternity.

Here I am, awake after midnight, thinking if there's still love that you have never shown.
Here I am, awake after midnight, thinking if those days have gone far away from home.
Here I am, awake after midnight, thinking if I should terminate the desire to know.

Here I am, awake after midnight,
Here I am, awake after midnight.

12 February 2015

Lagu Favorit

Sudah beberapa hari mandek bingung mau nulis apa... Tapi, gara-gara baca tulisan mbak Hilda, jadi kesentil untuk ngomongin sesuatu. Dalam postnya, ia menulis tentang lima film drama musikal favoritnya. Nah, setelah baca, gue kesentil deh... Kenapa gak nulis soal lagu-lagu drama musikal yang belakangan selalu nyangkut direplay? Belakangan ini gue sering banget keliling-keliling YouTube buat nyari segala lagu-lagu pertunjukan musikal yang ada. Nah... Maka pada kesempatan kali ini, gue akan ngomongin soal beberapa lagu favorit gue dari pertunjukan musikal.

08 February 2015

Sepuluh Tahun

Waw. Tiba-tiba gue kedatangan memori yang telah lama hilang tetapi muncul lagi. Sepuluh tahun yang lalu, di bulan Januari 2005, gue adalah siswi kelas 1 SMP. Saat itu, yang lagi ngetren adalah model rambut yang di-rebonding atau dilurusin sedangkan saat itu gue memutuskan untuk keritingin rambut karena gue bosan dengan rambut gue yang gak perlu dilurusin juga udah lurus. Saat itu, gue gagap teknologi dan tidak mengerti apapun soal internet.

Masa pre-internet, 1994


05 February 2015

Sedikit Tentang Safrina

Halo. Gila. Sungguh, gila. Baru nyadar kalo selama ini gue gak pernah mengenalkan siapa diri gue. Tertelat 2015. Punya blog dari tahun 2009 tapi ga pernah ngenalin diri. Gak sopan banget sih, Saf.

Okay. Here we go.
Nama saya Tamara Natalia Christina Mayawati Bleszynski. Eh salah deng. Nama saya Safrina Putriasti. Panggil aja Saf juga nengok. Gue lahir di Jakarta, tanggal 26 Juli 1992. Kalo kata website What Planet Are You On?, gue ini adalah hasil pembuahan tanggal 3 November 1991. Yak, sodara-sodara, ini benar adanya karena mak dan bapak gue menikah di tanggal 3 November 1991.

Okay. Selanjutnya gue akan menulis a la biodata jaman SD plus plus.

04 February 2015

Hanson, Strong Enough to Break

Sudah hampir dua minggu belakangan ini, gue dengerin Hanson.
Masih inget Hanson, kan? Itu loh. Band adek-kakak yang bawain lagu ngehits tahun 97an, MMMBop. Kayanya dulu gue pernah nulis soal salah satu personelnya, Zac Hanson. Ternyata terakhir gue nulis soal Hanson itu, Zac anaknya baru satu. Sekarang anaknya udah tiga. Bayangin. Tiga. Kemana aja gue selama ini?

03 February 2015

9GAG Meet-Up Jakarta


So... I knew about this 9GAG event like a week ago from Facebook events (I know, who still uses Facebook? I do!) and as soon as I got the news, I just RSVPed virtually. I knew I won't have anyone to come with, but all hell breaks loose... I decided just to go with it.

02 February 2015

What Your Best Friend Does 1


Your best friend will always be there in the middle to ruin a perfect photo.


Siergio scooping me some finger food and there's Nanda at the back. Bye!

Makasih loh udah berdiri di tengah-tengah gitu, mana mukanya on point banget. Cocok jadi fotomodel buat photobomb. Makasih. Bye!